Bintang gemintang berbaris rapi di birunya kanvas alam. Aku selalu suka bintang. Bagiku setiap bintang membawa harapan. Itu Sirius, bintang paling terang di langit malam. Canopus dan Arcturus menyusul di posisi kedua dan ketiga. Semakin terang, semakin besar aku meletakkan pengharapan. Aku menghela napas. Lamat-lamat menyusun pengharapan baru tentang apa yang lebih pantas untuk bintang seterang Sirius. Baru? Ya.
Aku memejam. Mencoba membuka kembali memori lama. Getir. Membukanya sama saja mengukir guratan luka baru di hati. Aku membuka mata kembali, menaruh pena lalu menbelai lembut teropong di depanku. Menunduk, membenarkan teropong sedemikian rupa demi melihat Sirius lagi.
Masih dapatkah aku meletakanmu pada Sirius?
Aku memejam. Mencoba membuka kembali memori lama. Getir. Membukanya sama saja mengukir guratan luka baru di hati. Aku membuka mata kembali, menaruh pena lalu menbelai lembut teropong di depanku. Menunduk, membenarkan teropong sedemikian rupa demi melihat Sirius lagi.
Masih dapatkah aku meletakanmu pada Sirius?
Meletakkanmu pada bintang paling terang di langit?
Dapatkah aku?
Sepersekian detik berlalu, semakin aku mencoba menghentikannya, semakin aku hancur ditempa memori lama. Aku hanya mendapati pikiranku semakin dalam tenggelam dalam kenangan.
Masih pantaskah namamu ku eja menjadi satu dengan Sirius?
Masihkah?
Aku melenguh. Melepaskan tanganku. Mengemasi seperangkat teropong bintang secepat mungkin. Kembali ke dalam kamar. Membaringkan raga dengan hati berkeping. Aku menatap ke atas. Tidak ada lagi bintang. Sejauh mata menatap, hanya langit kamar dengan ternit putih yang dapat tertangkap. Sirius? Canopus? Arcturus? Hanya kilaunya yang terpancar bila aku menengok ke kanan pada jendela kamar yang masih terbuka. Aku mendesah. Membiarkan tanganku keluar jendela mencoba menyentuh setiap bintang walaupun itu sempurna mustahil.
Pada bintang manakah aku meletakkanmu saat ini?
**
"Ayo ciss..." Ia melangkah mundur tiga langkah. Mengangkat kamera yang dipegangnya hingga menutupi separuh wajahnya. Aku tersenyum. Cis. Rambut hitam legamku tertiup angin ke kanan. Ia tertawa ke arah kamera. Aku berlari-lari kecil mengejarnya. Memastikan wajahku baik-baik saja di kamera. Bisa dipastikan, sebagian rambutku menutupi wajahku akibat terpaan angin. Ia semakin tertawa melihatku mengernyitkan dahi ke arahnya.
"Hapus, jelek." Aku merajuk. Ia menyerah, sedia menghapus foto jelekku tadi. Aku bersorak riang dalam hati. Persoalan foto memang tak sesepele itu bagi kaum hawa.
Ini sedang senja. Aku menanti sunset ditemani deburan ombak. Tak sampai hitungan jam, sunset akan datang. Aku menikmati setiap jengkal keelokannya saat ia tiba. Jika bagiku bintang penuh pengharapan, maka sunset bagiku penuh keanggunan. Kanvas alam berdasar jingga tak pelak membuat getar hati melihat. Lengkungan bintang siang turun perlahan seakan sedang berbilang mundur padaku. Maka aku menarik panjang nafasku. Menghirup setiap aroma khas saat sunset akan menghilang. Memaku mataku pada balutan lembayung senja. Sempurna.
Setiap akhir pekan, Ia tak pernah absen mengajakku menikmati eloknya. Ia selalu paham kesukaanku tanpa pernah aku berujar mengucapnya."Jasmine, lihat!" Tangannya menepuk-nepuk bahuku. Aku mendongak. Menghentikan gerak tanganku melukis pasir. Semburat keemasan di langit mengalihkanku. Indah. Seribu kali pun aku telah menyaksikan sunset di tempat yang sama, bagiku sunset tak pernah sedikitpun kehilangan anggunnya. Sayang, sunset hanya hadir sepersekian detik dari dua puluh empat jam. Tak cukup bagi penikmat sunset macam diriku. Hadirnya selalu menyisakan kerinduan. Pantas saja, aku selalu menantinya menjelang malam. Menunggu esok, menghitung siang, menyambut sore menjelang.
Setiap akhir pekan, Ia tak pernah absen mengajakku menikmati eloknya. Ia selalu paham kesukaanku tanpa pernah aku berujar mengucapnya."Jasmine, lihat!" Tangannya menepuk-nepuk bahuku. Aku mendongak. Menghentikan gerak tanganku melukis pasir. Semburat keemasan di langit mengalihkanku. Indah. Seribu kali pun aku telah menyaksikan sunset di tempat yang sama, bagiku sunset tak pernah sedikitpun kehilangan anggunnya. Sayang, sunset hanya hadir sepersekian detik dari dua puluh empat jam. Tak cukup bagi penikmat sunset macam diriku. Hadirnya selalu menyisakan kerinduan. Pantas saja, aku selalu menantinya menjelang malam. Menunggu esok, menghitung siang, menyambut sore menjelang.
**
Apakah hari ini kau seperti sunset?
Apakah hari ini kau seperti sunset?
Yang hadirnya sungguh sempurna?
Hanya cukup sepersekian detik sehari?
**
**
Aku kembali menatap langit-langit kamar. Tidak ada bintang. Menatapnya lagi, lebih lama lagi. Tidak ada bintang.
Kemanakah Bintang?
Kemanakah Bintang?
Bintangku. Bukan lagi Sirius, Canopus, atau Arcturus. Bukan bintang di langit. Bintang hatiku. Bintang yang pernah sanggup aku gapai. Mampu aku jamah setiap jengkal keberadaannya. Dapat bersinar sepanjang waktu tak peduli pagi menyongsong. Menemaniku pada setiap langkah yang aku pijak.
Aku menitikkan air mata. Kalap. Membiarkan setiap tetesnya menuruni pipi. Aku justru mendapati gemericik rintik hujan menemaniku. Alam seolah menangisi keadaanku. Semakin deras, Aku bangun setengah berdiri. Malam menyeruak, dingin menggelayut. Aku menutup jendela kamarku yang mulai jadi pintu masuk air hujan. Aku berterimakasih padanya. Hujan paham kapan ia harus turun menemani insannya.
Apakah hujan juga paham apa yang aku cari?
Apakah kau menyembunyikan Bintang diantara jutaan tetes air langitmu?
Hujan diam. Membiarkanku lelap bersama sejuta pertanyaan membuncah. Pertanyaan yang aku sendiri tak tahu harus menuntut jawabnya pada siapa.
Entah pagi, siang, sore, atau malam, aku tak peduli kapan kau membaca jejak pena ini. Jejak pena seorang perindu yang tak sedikitpun bernyali untuk mengucapkan. Jejak-jejak rindu yang membuncah namun terbendung pada sebuah temu.
Rindu teruntuk Bintang.
**
Malam lenyap berganti esok. Sinar pagi menyorot separuh wajahku. Merongrong membangunkanku. Pagi. Dimana malam-malam panjang disesaki rindu telah terlewati. Dimana satu janji baru menunggu untuk diakui. Janji untuk tetap hidup.
Aku tersenyum. Bangun setengah berdiri membuka jendela yang masih meninggalkan jejak-jejak hujan semalam. Hujan pergi tanpa meninggalkan jawaban.
Entah pagi, siang, sore, atau malam, aku tak peduli kapan kau membaca jejak pena ini. Jejak pena seorang perindu yang tak sedikitpun bernyali untuk mengucapkan. Jejak-jejak rindu yang membuncah namun terbendung pada sebuah temu.
Rindu teruntuk Bintang.
**
Malam lenyap berganti esok. Sinar pagi menyorot separuh wajahku. Merongrong membangunkanku. Pagi. Dimana malam-malam panjang disesaki rindu telah terlewati. Dimana satu janji baru menunggu untuk diakui. Janji untuk tetap hidup.
Aku tersenyum. Bangun setengah berdiri membuka jendela yang masih meninggalkan jejak-jejak hujan semalam. Hujan pergi tanpa meninggalkan jawaban.
Lagi-lagi kenangan seolah tak peduli waktu lantas menghujam kalbu.
**
Aku sengaja memperpanjang cerita. Mencuplik sedikit kebersamaanku dengan Bintang lantas menanyakan keberadaannya. Sebab, hati tak tahu lagi arah kemana harus bertanya. Kemana harus berucap rindu. Kemana harus membagi luka-luka hati yang hancur berkeping.
**
Aku sengaja memperpanjang cerita. Mencuplik sedikit kebersamaanku dengan Bintang lantas menanyakan keberadaannya. Sebab, hati tak tahu lagi arah kemana harus bertanya. Kemana harus berucap rindu. Kemana harus membagi luka-luka hati yang hancur berkeping.
Kau Bintang.
Menghempaskan hatiku begitu saja ke dalamnya samudera.
Menghempaskan hatiku begitu saja ke dalamnya samudera.
Aku tidak mengerti atas satu hal. Hubunganku denganmu memang tak pernah terpatri dalam sebuah monumen atas nama cinta. Tak pernah saling berucap kalimat mengenai ‘Aku cinta padamu’. Tak pernah saling menebar kata sayang pada setiap kemesraan. Bagiku kalimat itu bualan belaka. Akibat trauma masa lalu aku menjadi anti mendengar dan mengucap kalimat itu. Maka aku tak pernah sedetik pun membiarkanmu larut kemudian mengucapkannya. Aku selalu berhasil menghentikanmu untuk tidak mengucapnya, bahkan mengejanya. Aku menangkap setiap rangkaian huruf dalam kalimat itu bukan lewat suara yang keluar dari bibirmu. Aku menerkanya lewat keakraban, kenyamanan, ketertautan kita berdua. Bagiku itu simbol mengenai kalimat itu. Tapi ternyata aku salah mengartikan setiap detik kebahagiaanku bersamamu. Apa yang kuhentikan sebelum kau berucap ternyata salah. Detik-detik itu bukan detik-detik yang kau anggap cinta.
**
Aku termangu. Tak sepantasnya aku menodai cerahnya pagi dengan mengingat kenangan itu sepagi ini. Tapi kendali itu lumpuh. Aku membalik badan. Kini punggungku yang tertimpa teriknya pagi. Mataku menatap tak berkedip selembar kertas putih di atas meja. Aku beranjak mengambilnya.
Jasmine,
Ketika kau membacanya, aku harap kau masih meletakkanku pada bintang Sirius. Dimana pengharapan besar ada padanya. Aku tak ingin menjelma menjadi sunset yang sempurna namun hanya hadir sepersekian detik sehari. Aku ingin mengalahkan hujan yang sanggup menemani dan memahamimu kala waktu yang tepat.
Maaf, bila kepergianku terasa begitu mencekikmu. Menusuk ulu hatimu. Sebab tak ada sedetikpun waktu ku gunakan untuk berpamitan denganmu.
Lewat apa yang aku tulis, aku mendamba sebuah hal yang seharusnya kau tahu sejak lama. Aku mencintaimu. Selamanya akan selalu sama.
Biarkan aku sejenak menyelesaikan urusanku sendiri. Aku harap pernyataan ini mampu membuatmu bertahan lebih lama lagi untuk menungguku.
Bintang.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepucuk surat dari Bintang ada begitu saja di atas meja.
Apakah ia sendiri yang mengirimnya semalam?
Tahukah ia atas kekalutan hatiku tanpa kehadirannya?
Tanganku bergetar ketika batinku sedikit demi sedikit menafsirnya. Sejatinya, urusanmu itu urusanku juga. Omong kosong jika Ia anggap itu urusannya sendiri.
**
Kami saling menatap terpaku. Tak menyangka atas kehendak Tuhan mempertemukan hamba-Nya. Bagaimana mungkin aku yang tinggal hanya lima komplek darinya di Indonesia baru mengenalnya saat di Australia? Sungguh paradigma hidup yang keterlaluan. Saat itu aku dan Bintang sama-sama mengambil jurusan bisnis di universitas yang sama. Bedanya, ia sudah hampir wisuda dan aku baru saja masuk.
Kota pesisir di Samudera Selatan menjadi saksi pertemuan pertama kita, Adelaide. Sebuah kota elegan dengan jalan-jalan yang lebar dan arsitektur kolonial yang anggun serta dikelilingi oleh taman-taman indah yang ditata untuk bersepeda, berjalan, olahraga dan piknik. Warga Adelaide sangat menyukai gaya hidup berbudaya. Hingga disana banyak ditemui galeri, musium, festival (termasuk salah satu festival seni yang utama di dunia), sebuah kasino dan pub yang ramai, kafe dan juga restoran dengan pemandangan sungainya.
Seperti kota-kota medium lainnya di Australia, Adelaide adalah kota yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk layaknya kota besar seperti Jakarta dan Sidney. Kota ini cocok untuk orang yang ingin mencari ketenangan. Tingkat kriminalitas kota ini juga paling rendah. Sayang, kota ini terlalu cepat mati. Pukul 6 sore, jalanan sudah sepi. Orang-orang lebih memilih untuk beristirahat di rumah.
Masa itu aku dan Bintang sama-sama sedang diburu waktu. Kebetulan gedung mahasiswa baru ada di Utara dan gedung mahasiswa tingkat akhir ada di Selatan. Hal yang baru aku ketahui setelah aku menabrak Bintang tanpa sengaja dan menumpahkan sekotak es krim yang aku bawa di kaos putihnya yang bertuliskan 'I Love Tebet'. Dari tulisan di kaosnya, aku tahu kalau dia orang Indonesia.
"Maaf. Biarkan aku membersihkannya. Perkenalkan namaku Jasmine. Kamu orang Jakarta?"
"Iya, aku Bintang.”
**
Aku bersandar pada dinding. Kokohnya cukup untuk menopangku tetap berdiri dengan raga yang lemas tak berarti mencoba menulis balasan surat untuk Bintangku.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Masa itu aku dan Bintang sama-sama sedang diburu waktu. Kebetulan gedung mahasiswa baru ada di Utara dan gedung mahasiswa tingkat akhir ada di Selatan. Hal yang baru aku ketahui setelah aku menabrak Bintang tanpa sengaja dan menumpahkan sekotak es krim yang aku bawa di kaos putihnya yang bertuliskan 'I Love Tebet'. Dari tulisan di kaosnya, aku tahu kalau dia orang Indonesia.
"Maaf. Biarkan aku membersihkannya. Perkenalkan namaku Jasmine. Kamu orang Jakarta?"
"Iya, aku Bintang.”
**
Aku bersandar pada dinding. Kokohnya cukup untuk menopangku tetap berdiri dengan raga yang lemas tak berarti mencoba menulis balasan surat untuk Bintangku.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Bintang,
Aku kehilangan harapan. Aku tak bisa meletakkanmu pada Sirius lagi. Rasa-rasanya kau bak sunset di hidupku. Biarlah hujan yang menemaniku. Biarlah aku terbiasa tanpa hadirmu.
Suratmu justru membuatku semakin mundur dari penantian.
Sampai kapan aku harus bertahan?
Sampai kau mempersunting gadis itu?
Menyaksikan Bintang hatiku dimiliki orang lain?
Menerima semua getir pahit itu sendirian?
Tidak, Bintang. Aku tidak akan bertahan menunggumu lagi. Tidak untuk kapanpun.
-Jasmine-
Aku kehilangan harapan. Aku tak bisa meletakkanmu pada Sirius lagi. Rasa-rasanya kau bak sunset di hidupku. Biarlah hujan yang menemaniku. Biarlah aku terbiasa tanpa hadirmu.
Suratmu justru membuatku semakin mundur dari penantian.
Sampai kapan aku harus bertahan?
Sampai kau mempersunting gadis itu?
Menyaksikan Bintang hatiku dimiliki orang lain?
Menerima semua getir pahit itu sendirian?
Tidak, Bintang. Aku tidak akan bertahan menunggumu lagi. Tidak untuk kapanpun.
-Jasmine-
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku menjejakkan tetes demi tetes tinta pena menjadi rangkaian kalimat di balik surat Bintang. Aku sengaja menggunakannya lagi agar aku dapat membuang pikiran jauh-jauh untuk bertahan menunggumu. Agar aku tak semakin menyesali keputusanku.
Aku terduduk di atas lantai. Melipat tangan dan kakiku kemudian menangis sejadi-jadinya. Ingin aku menunggumu lebih lama lagi. Tapi apakah kau akan benar-benar kembali?
Aku menjejakkan tetes demi tetes tinta pena menjadi rangkaian kalimat di balik surat Bintang. Aku sengaja menggunakannya lagi agar aku dapat membuang pikiran jauh-jauh untuk bertahan menunggumu. Agar aku tak semakin menyesali keputusanku.
Aku terduduk di atas lantai. Melipat tangan dan kakiku kemudian menangis sejadi-jadinya. Ingin aku menunggumu lebih lama lagi. Tapi apakah kau akan benar-benar kembali?
Jangan biarkan kau hanyut pada pengharapan itu, Jasmine. Minggu depan hari pernikahannya. Selembar amplop biru di sisi lain mejamu itu undangannya.
Terkutuklah seseorang yang mengantarkan surat Bintang sekaligus undangan pernikahannya dengan gadis itu.
**
Beberapa bulan lalu, aku duduk di bangku taman, Bintang mengajakku bertemu. Maka aku menyanggupinya.
"Mbak Jasmine?" Panggilnya.
"Cantik benar Mbak ini, persis seperti apa yang Mas Bintang ceritakan." Aku menoleh mendengarnya menyebut nama Bintang.
"Aku Seli, Mbak. calon istri Mas Bintang." Ucapnya santai sambil mengelus-ngelus perut buncitnya di hadapanku.
Aku mematung. Sapaannya memekakkan telinga. Aku menatap tak berkedip atas apa yang aku saksikan di depan mataku. Mencerna setiap hal dari perangainya yang membuat hatiku membeku kemudian dipukul baja lalu remuk. Bibirku mengeras tak dapat berkata-kata. Diam seribu bahasa. Tinggal air mataku yang dapat bergerak turun. Aku tak habis pikir soal Seli atau siapalah itu. Aku kehabisan nalar soal Bintang. Aku meninggalkannya. Aku berlari secepat dan sejauh yang aku bisa. Aku berhenti setelah menabrak Bintang.
"Jasmine?" Bintang meraih tanganku.
"Lepaskan atau aku akan teriak!" Bintang melepaskan tanganku. Aku hendak berlari melampiaskan segala hal.
Tuhan, hati wanita mana yang akan kuat mendengar sapaan calon istri bintang hatinya?
Hatiku bukan baja yang akan tetap keras dan utuh diterpa badai.
Bisakah kau bayangkan betapa remuk redamnya hatiku?
Sedikit percakapan tadi mampu membenamkan seluruh perasaanku pada Bintang. Aku harus berlari. Harus. Tapi kesadaranku keburu terhenti. Aku pingsan.
**
Gadis itu. Tak pernah sedikitpun aku tahu dan mencari tahu seputar gadis itu. Sapaannya kala itu cukup bagiku untuk mengisahkan apa-apa yang ada. Aku sepakat berdamai pada kenangan dengan tidak mencari jati dirinya. Kenangan yang bisa kapan saja terangkat ke permukaan. Terlebih akibat sepucuk surat Bintang. Sebab telah berbulan-bulan aku kehilangan kabarnya. Dan kini ia muncul seenaknya dengan pernyataan yang membuat dadaku sesak. Pernyataan yang tak pernah ia ucap sebelumnya pada detik kebahagiaan kita dulu. Cinta yang kau ucapkan lewat goresan pena pada sebuah kertas justru melukaiku semakin dalam. Aku benci mengetahuinya. Hina.
Bagaimana dengan gadis itu, Bintang?
Bagaimana perasaanmu padanya?
Bagaimana perasaanmu padanya?
Aku mengerjap-ngerjap naik ke atas ranjang. Melipat kembali surat itu. Aku mencoba berdiri melawan pengharapan palsu yang kau tawarkan. Bibi telah aku titipi untuk mengirimkan surat itu menuju alamat barumu. Ya mungkin itu alamat rumah keluarga kecilmu kelak bersama gadis itu. Ah aku berusaha tak peduli.
Adelaide yang mengenalkanku pada Bintang tak pernah salah. Aku belajar banyak hal. Termasuk belajar cara mengikhlaskan yang sejatinya saat ini aku sedang menempuhnya.
Sanggupkah aku mengikhlaskanmu setelah kau dan aku sama-sama mengukir tahun-tahun terbaik bersama?
**
Secara harfiah, aku memang bukan kekasihmu. Karena kita sama-sama tak tahu kapan perasaan itu tumbuh lalu kita menjadi dekat lalu semakin dekat. Yang aku tahu Bintang ada untukku dan aku ada untuknya.
**
"Jangan hujan-hujan, Jasmine."
Bintang membenci hujan. Karena ia tahu posisinya tersaingi ketika hujan tiba. Sebab, aku merasa hujan lebih paham atas perasaanku.
"Nanti sakit, Jasmine."
Bintang menarikku setiap kali aku menari-nari di tengah derasnya hujan. Tapi justru akulah yang berbalik menariknya masuk dalam pusaran terpaan hujan. Aku tertawa lepas mengajaknya bercengkrama dengan hujan.
"Jasmine...."
"Ini menyenangkan, Bintang. Ayolah..."
Ia menggerutu sebentar lantas menikmati setiap tetesan air langit yang turun bersamaku. Aku berhasil membungkam omelannya. Sekarang ia juga tertawa lepas. Rupanya ia juga menyukainya.
**
Sayang, sekarang tidak hujan. Ini pagi yang cerah. Kontras menggambarkan keadaanku.
**
Aku menatap kosong hamparan hijau sejauh mata memandang. Mengingat janji hidup.
"Jasmine, berjanjilah padaku demi apa-apa yang telah dan akan kita lewati di masa mendatang. Kau akan tetap hidup wajar sebelum atau setelah Bintang menikah. Maukah kau berjanji untukku?" Nadya bahkan telah meramal keadaanku saat ini. Aku hanya mengangguk pelan. Tidak berucap apapun saat ia memaksaku berjanji.
Maafkan sahabatmu ini, Nadya. Hidupku tidak lagi wajar. Rindu mencekikku kala malam. Harapan muncul kala pagi menjelang. Lelah hati tiba kala siang. Mendamba kehadirannya kala senja datang. Lalu rindu kembali mencekikku kala malam. Terus berputar-putar menjadi hari-hari yang berat untuk seorang yang lemah sepertiku.
Apa kabar Bintang?
Kau pasti bahagia sebab perhelatan pernikahanmu segera akan dilangsungkan bukan?
**
Menunggu itu menyakitkan. Meninggalkan juga. Dan yang lebih menyakitkan lagi, aku tak tahu harus menunggu atau meninggalkan.
**
"Jasmine, biar aku datang sendiri ke pesta itu."
"Tidak, Nad. Aku akan menemanimu." Aku menelan ludah. Aku berhasil mengucap kalimat itu dengan mulut bergetar. Mataku berkaca-kaca.
**
**
Menunggu itu menyakitkan. Meninggalkan juga. Dan yang lebih menyakitkan lagi, aku tak tahu harus menunggu atau meninggalkan.
**
"Jasmine, biar aku datang sendiri ke pesta itu."
"Tidak, Nad. Aku akan menemanimu." Aku menelan ludah. Aku berhasil mengucap kalimat itu dengan mulut bergetar. Mataku berkaca-kaca.
**
Hari itu tiba.
Pernikahan. Penantian untuk menggapai janji suci. Saat ketertautan antara dua hati tiba untuk disatukan. Cukup satu helaan napas untuk mengucapnya. Cukup sepuluh huruf untuk mengejanya. Cukup getir pula aku memikirkannya. Merasa setiap detik kebahagiaan pada tahun-tahun terbaik itu sia-sia.
Nadya membawakanku gaun putih dengan bordiran bunga di bagian atas. Gaun yang sempat aku incar namun urung membelinya ketika masih bersama Bintang.
"Kau cantik, Jasmine." Nadya menyisir rambutku dari belakang.
"Seharusnya Bintang..." Aku menoleh. Menjulurkan telunjukku kemudian menutup bibirnya.
"Cukup, Nad. Ayo kita berangkat." Aku tahu apa-apa yang hendak diucapkan sahabatku itu. Aku menghentikannya sebelum ia menurukan semangat di pagi cerahku untuk menghadiri pestanya.
Pernikahan. Penantian untuk menggapai janji suci. Saat ketertautan antara dua hati tiba untuk disatukan. Cukup satu helaan napas untuk mengucapnya. Cukup sepuluh huruf untuk mengejanya. Cukup getir pula aku memikirkannya. Merasa setiap detik kebahagiaan pada tahun-tahun terbaik itu sia-sia.
Nadya membawakanku gaun putih dengan bordiran bunga di bagian atas. Gaun yang sempat aku incar namun urung membelinya ketika masih bersama Bintang.
"Kau cantik, Jasmine." Nadya menyisir rambutku dari belakang.
"Seharusnya Bintang..." Aku menoleh. Menjulurkan telunjukku kemudian menutup bibirnya.
"Cukup, Nad. Ayo kita berangkat." Aku tahu apa-apa yang hendak diucapkan sahabatku itu. Aku menghentikannya sebelum ia menurukan semangat di pagi cerahku untuk menghadiri pestanya.
Aku sampai pada sebuah alamat yang tertera pada undangan itu. Mungkin ini pesta kebun atau semacamnya karena alamat itu membawaku pada sebuah kebun teh di pelosok Bandung. Tapi hanya kesunyian yang aku dapati bersama Nadya. Apakah aku salah alamat? Rasanya benar kok. Aku terus mencari-cari pesta itu tapi nihil. Aku dan Nadya memilih pulang.
Kemanakah gemerlap pestamu Bintang?
Apa ini yang kau maksud menyelesaikan urusanmu sendiri?
Bagaimana dengan gadis itu Bintang?
Kemanakah gemerlap pestamu Bintang?
Apa ini yang kau maksud menyelesaikan urusanmu sendiri?
Bagaimana dengan gadis itu Bintang?
--BERSAMBUNG--